campdavidhome

All about our effort to build our own home

Let There be Light

pada September 27, 2012

Dalam membangun rumah, yang lebih penting adalah jalur listrik (paling BT kalo harus berebut stop kontak) [dan jalur air (tengah2 mandi, air mati! ), tapi sebaiknya air ada di post berikutnya, karena pembahasannya pasti bakal panjang dan lebar seperti ini]. Kemudian juga pencahayaan, dari sinar matahari (jendela sebanyak dan sebesar mungkin) dan lampu.

courtesy of I-forget-where-was-it-come-from

Bayangkan saja : rumah udah bagus, lampunya ga bisa dinyalain. atau listriknya cenderung naik-turun karena salah pake kabel. atau daya PLN yang dimiliki ga bisa terpakai maksimal. Seperti di rumah yang sekarang kami tinggali ini. Daya PLN seharusnya bisa menyalakan 2 AC, 1 komputer, 1 pompa air, dan lampu2 + rice cooker & lemari es. Tapi nyatanya ….. begitu 1 AC dan 1 pompa air menyala, komputer dan AC lainnya sudah tidak bisa digunakan lagi, karena pasti ‘njeglek’ (dayanya ‘dianggap’ ga mencukupi)

Tapi kalo pake lighting plan yang benar2 pro, seperti restoran Pizza Hut aja butuh lebih dari 100 titik lampu. Padahal ruangannya paling juga cuma 300m2-an. La kalo rumah tinggal masa mau sebanyak itu ya??? Kecuali udah pake solar panel, jadi ga bayar PLN.

Sedangkan solar panel saja, hitungannya per panel sekitar 5 jutaan hanya untuk 100 Watt listrik, belum peralatan lainnya (http://tokoone.com/panel-solar/). Untuk mencapai 2000 Watt kayak di rumah sekarang butuh 10 panel. Kalau 1 panel 5 juta x 10 panel = 50 juta sendiri !!! oemji deh ….. Padahal dari sinar matahari, belum bisa langsung dijadikan aliran listrik. Sinar itu kudu dirubah dari DC ke AC. Trus harus ada batere, untuk menyimpan hasil sinar yang masuk. Kalo ga …. bisa2 waktu lagi mendung pekat, ga ada aliran listrik masuk, alias black-out. Balik lagi deh ke PLN.

Jadi sampai sekarang, belum bisa dipastikan, bagaimana mengatur listrik yang benar. Yang baru bisa direncanakan adalah pemakaian lampu LED dan lampu hemat energi sebanyak mungkin. Selain itu kami juga sudah menetapkan bahwa dalam satu ruangan harus ada paling sedikit 4 colokan listrik dan 2 colokan telepon. Ini sih dari pengalaman berebut colokan untuk charge gadget masing2🙂 untungnya suami selalu membawa kemana-mana kabel extension dengan minimum 4 colokan di dalamnya.

Tambahan lainnya sih saklar hotel (mematikan/menyalakan lampu dari 2 titik berbeda), card key seperti di hotel (just dreaming, not yet reality), skema listrik yang jelas supaya kalo ada apa2 tidak bongkar2 dinding (yang rencananya di cor pake ready mix, dan yang ‘katanya’ kerasnya ga ketulungan) atau dinding dobel (dinding batako/cor di bagian luar, partisi/gypsum di bagian dalam).

Oya, dulu sih kami berdua sempat saling ngotot, memutuskan apakah lampu warna kuning lebih keren daripada lampu warna putih. Menurut pengamatan saya, lampu warna kuning temaram membuat ruangan jadi terlihat lebih cozy dan elegan. Sementara menurut suami, lampu putih membuat kebutuhan lampu tiap ruangan lebih sedikit. Tapi setelah banyak mengunjungi tempat2 publik yang menggunakan lampu putih dan lampu kuning, kami jadi semakin yakin bahwa memang lampu kuning jauh lebih berperan dalam menentukan atmosfer ruangan, dibanding lampu putih, yang malah lebih menunjukkan kotor tidaknya suatu ruangan. ha !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: