campdavidhome

All about our effort to build our own home

The Miracle (part 1)

pada Mei 16, 2012

(saking panjangnya, saya bagi jadi 2 posts)

Ini pengalaman saya berhadapan dengan mujizat Tuhan secara langsung. Sebetulnya ngga terlalu berhubungan dengan topic blog saya mengenai rumah. Tapi saya ingin membagikannya di sini, supaya semakin banyak orang tahu bahwa “Mujizat itu Nyata”. Yup !! Lagu dengan judul itu jadi rhema dalam hidup saya. Khususnya waktu saya hamil.

Sebetulnya saya dan hubby belum berencana punya anak. Kami masih menikmati masa pengantin baru, yang penuh dengan penyesuaian karakter di sana-sini. Belum lagi masalah finance. Jadi waktu itu kami berpikir untuk menunda punya baby sementara waktu. Padahal orangtua dari kedua belah pihak sudah ngotot pengen segera punya cucu. Maklum, orangtua saya baru punya cucu 1 orang, di USA lagi (jauhnya….)

Karenanya saya minum pil KB (yang gold lagi). Ga pake konsultasi ke dokter. Sok PD aja lagi …. J Kalau sebelumnya tanggal menstruasi saya sering maju mundur, sejak minum pil KB, menstruasi jadi teratur deh. Karena itu kami benar2 kaget waktu awal tahu bahwa saya hamil! Apalagi posisi saya waktu itu baru pulang pelatihan leadership trainer bareng teman2 gereja di Trawas (mental & fisik dihajar semua), langsung ke Bandung (perginya naik kereta api, pulangnya naik pesawat) selama 5 hari karena oma dari Papa meninggal, dan langsung balik ke kota kami naik mobil.

Sampai di rumah, badan saya meriang. Capek, lesu, lemas …. Nyampur semua. 2 hari begitu, kakak ipar saya menyarankan agar kami pergi ke dokter. Oke, dokter umum. Nah, dokter itu meraba perut saya dan bilang (drumrolls), “kamu hamil”.

Respons pertama kami, “ah, gak mungkin dok. Minum pil KB kok”

“Oh, berarti kista di indung telur nih”, kata dokternya. “atau dua2nya. Kista iya, hamil iya”

Dua kali shock therapy dalam semalam ???? Oh GOD !!!!

Supaya lebih jelas, si dokter member saya surat pengantar untuk USG. Dan pulang dari dokter ini, kakak ipar berinisiatif supaya saya tes kehamilan. Ternyata …… (drumrolls lagi) …. Keduanya benar !!! Kista dan hamil jadi satu.

Beberapa hari kemudian, kami ke Surabaya untuk tes lebih lanjut (siapa tahu dokter kota kecil salah tebak). Dan ternyata hasilnya sama : kista dan hamil. Kistanya malah cukup besar, diameter 11 cm.

Dokter pertama di Surabaya menyarankan saya untuk laparaskopi (operasi pakai tangan elektronik supaya luka operasinya kecil). Pertimbangannya : biasanya kista besar akan berebut makanan dengan si janin L Kalau sudah begitu, si kista tambah besar, si janin kurus kering, atau bahkan gugur LL:’(

Untungnya setelah cari second opinion dengan dokter kedua (yang katanya ahli kista Surabaya), hasilnya lebih menjanjikan J Dokter yang ini bilang ga perlu laparaskopi, asal di USG setiap bulan untuk melihat apakah kistanya membesar atau mengecil. Kalau kista membesar dan ada indikasi janin kekurangan nutrisi, berarti harus laparaskopi. Kalau ukuran kista tidak berubah dan janin tumbuh sehat, kista bisa diambil saat operasi Caesar. Yuhuuu …. !!

Puji Tuhan, kehamilan saya berjalan lancar. Awalnya sempat muntah sekali saja. Dan mual kalau makan makanan yang terlalu manis. Dan tidak suka bau sabun mandi hubby (padahal sabun itu juga yang saya pakai !).

Saya malah sempat lari2 di bandara Ngurah Rai, Denpasar waktu hamil 2 bulan gara2 hampir ketinggalan pesawat ke Sydney, Australia. Dan waktu di Sydney kami menginap di 2 apartemen bertingkat. Yang di Hunter Valley (penghasil wine Australia) kamarnya di lantai atas. Sedangkan yang di suburb (dekat IKEA..yeah !!) kamar di bawah dan dapur di atas. Tapi saya malah jadi fresh karena ‘terpaksa’ naik-turun tangga dan jalan terus J Perjalanan ini  jadi hadiah kecil Tuhan buat kami. Soalnya waktu honeymoon, dana kita benar2 terbatas. Sampai Indomie jadi makanan sehari-hari😀. Eh ternyata waktu saya hamil, bisa jalan2 sampe Sydney, dibayari, bareng keluarga besar… hepi banget !!

di gendongan adiknya mama (kami di S’pore)

Kejutan Tuhan ga berhenti sampai di situ. 2 bulan kemudian kami jalan2 lagi ke Bali. Dibayari lagi, bersama keluarga besar lagi. Benar2 berkat melimpah deh !!. Waktu di Bali saya mulai berubah : males mandi (yaiks !) dan lebih suka jalan2. Naik mobil, jalan kaki, apa aja deh. Kolam renang di Novotel Tanjung Benoa pun hanya saya nikmati dari jendela kamar. Ga kepingin nyebur sama sekali ! Padahal kalo hawa panas, saya paling ga tahan pengen nyebur ke kolam renang.

Waktu lagi hamil 5 bulan, kami ketemu teman lama yang pendeta full-timer di kota kami. Kita sempat makan bertiga (ikan bakar yang enak banget, walaupun aku dilarang hubby makan sambalnya karena takut babynya ngga tahan). Nah waktu selesai makan, si teman bilang, “anakmu ini anak mujizat”. Amen !! Dalam bayangan kami, si baby bakal jadi seperti Benny Hinn atau pak Pariadji (gereja Tiberias)

Di bulan ke 8 kehamilan saya, kami berdua sempat jalan2 lagi ke Bali. Bertiga bersama seorang keponakan, kami berangkat naik mobil. Butuh hampir 12 jam untuk mencapai jl. Teuku Umar, Denpasar. Begitu melihat KFC (di Gelael Teuku Umar), kami langsung berhenti makan. 4 hari kami stay di Kuta, Bali. Tujuannya sih untuk melihat bibit babi ternak milik Charoen Pokphand. Tapi namanya sudah sampai Bali, ya jalan2 deh ke Legian J hampir 4 jam kami jalan2 di sana, saya cuma kerasa capek sedikit. Perut yang sudah membesar seperti ngga ada artinya !

Kami bahkan tidak menyadari bahwa short trip ke Bali itu membuat kedua orangtua kami  deg-degan. Mereka kuatir saya bakal melahirkan di Bali !. Padahal di Bali juga ada rumah sakit kok ….

Tanggal operasi Caesar sendiri ditentukan tanggal 8 Juni. Saya memilih tanggal itu karena pas dengan hari Ultah  alm. Oma dari Mama. Jadi kami sudah ada di Surabaya seminggu sebelumnya. Hubby cuma beberapa hari stay di Surabaya. Pikiran kami, “toh operasinya baru tanggal 8”. Jadi menurut rencana, hubby baru akan kembali ke Surabaya tanggal 7 Juni.

Hari Minggu tanggal 4 Juni, saya, Mama, dan kakak sulung saya ikut kebaktian kedua di Graha Bethany Nginden. Pulangnya kami bertiga jalan2 di Tunjungan Plaza. Ngga terasa, kami makan siang, cuci mata, dan …. makan malam di sana. Balik ke rumah sudah jam 20.30 malam ! Seharian jalan begitu akhirnya capek juga saya. Selama di Plaza, begitu ketemu tempat duduk, langsung saya duduk. 15-20 menit kemudian kami jalan lagi.

Malamnya, di kamar, saya masih sempat membuat daftar barang2 apa saja yang kira2 dibutuhkan si baby. O ya, di bulan ke-6 kami mendapat kepastian bahwa baby kami berjenis kelamin laki-laki. Pas banget dengan keinginan kami berdua J

Sekitar jam 3 pagi, saya kebangun dengan perut mulas. Seperti kalau habis makan sambal kebanyakan begitu. Jadi saya mencoba untuk BAB. Tapi tidak ada yang keluar. Keluarnya hanya air, yang saya pikir air seni. Beberapa kali rasa mulas itu muncul, dan membuat saya bertanya-tanya, ‘tadi malam makan sambal berapa banyak ya?’.

Jam 5.30 pagi, rasa mulas itu semakin sering terjadi. Saya jadi curiga, jangan2 ini kontraksi. Sebelum ini saya dan hubby sempat membaca buku2 kehamilan (lucunya, di toko buku Borders, Sydney, kami berdua sama2 mojok di sofa dengan setumpuk buku tentang kehamilan di tangan masing2. Si penjaga toko sampai heran melihat suami saya membaca buku begituan J). Dan saya ingat pernah membaca bahwa tanda2 mau melahirkan itu adalah kontraksinya sudah terjadwal. Dan pagi ini kontraksinya sudah terjadi setiap 10 menit sekali.

Saya panic ! Pagi-pagi begini, mau naik apa ke rumah sakit? Sopir belum datang, hubby masih di kota lain, Papa sudah jarang sekali menyetir mobil. Dan kakak sulung saya pasti sedang siap2 mau ke kantor.

Akhirnya, dalam keadaan bingung dan menahan mulas, saya ke kamar Papa & Mama. Maunya saya nanya ke Mama (yang sudah punya pengalaman melahirkan 4 putrinya), apakah ini betul kontraksi atau kebanyakan makan sambal !

Tapi melihat saya masih bisa berjalan tegak, Mama bilang, ‘ngga mungkin kontraksi! Kalo iya pasti kamu sudah ga bisa jalan (bisanya menahan sakit di ranjang)’. Jadi akhirnya saya turun ke lantai bawah (kamar tidur saya di atas). Saya masih sempat memasukkan beberapa baju ke dalam tas (yang rencananya saya bawa ke RS), waktu Papa menyuruh saya (lewat aiphone) untuk telpon dokter dan bertanya apa yang sebaiknya saya lakukan.

Jadi sambil ngerasain mulas, saya telpon dokter saya, yang kebetulan sudah ada di RS tempat saya berencana melahirkan (lagi operasi Caesar juga dia. Untung telponnya diangkat !). Waktu saya ceritakan bahwa kemungkinan saya mengalami kontraksi, dokter langsung menyuruh saya datang ke RS, untuk diperiksa lebih lanjut. Mendengar itu, saya langsung telepon hubby, untuk memberitahu bahwa saya akan ke RS pagi itu. Saya bilang, ‘mungkin sudah mau lahir babynya’ (setelah operasi dan masuk ke kamar RS, baru saya tahu bahwa hubby langsung ngebut ke Surabaya. Sampai sempat ditilang segala. Waktu tahu bahwa istrinya mau melahirkan, pak polisi berbaik hati mengembalikan SIM dan STNKnya. Hari itu lumpur Lapindo sudah mulai meluber ke jalan raya Porong)

Setelah telpon hubby, saya bilang ke Papa mau ke RS naik taxi. Udah ngga tahan lagi nih mulasnya L. Mama bilang suruh tunggu sopir datang saja (jam 8 pagi biasanya). Padahal itu baru jam 7.30. Akhirnya Papa yang mengantarkan saya ke RS. Untung tas pakaian tidak lupa saya bawa. Sampai di RS, saya dan Papa jalan masuk ke lobi. Eh, masih mau dimintai data pasien lagi. Sudah lemas menahan mulas, masih disuruh berdiri & isi formulir.

Untungnya ada suster (senior mungkin) yang melihat kondisi saya, dan langsung membawa saya ke ruang bersalin. Sementara Papa saya disuruh isi formulir. Di ruang bersalin, saya masih harus menunggu giliran naik ke ranjang (kebetulan ruangannya kecil2. Isi per ruang hanya 3 orang pasien). Karena sudah ngga sanggup duduk, saya mondar-mandir saja di depan ruangan itu.

Waktu giliran saya masuk, suster meminta saya membuka panty dan ganti baju. Baru saya lihat ada bercak darah di panty. Di atas ranjang, saya ditanyai, ‘siapa dokternya?’. Waktu saya bilang bahwa seharusnya saya melahirkan secara Caesar, suster kaget. Dan ga kerasa, saya mulai mengejan. Saat itu suster langsung memasang selang IV, mencukur bulu di daerah kemaluan & perut, dan mengajari saya untuk mengatur napas agar tidak mengejan (dan melahirkan normal !).

Beberapa menit berlalu, dokter belum juga muncul. Akhirnya suster tadi langsung menelepon kamar operasi di atas. Dari yang saya dengar, saya sudah pembukaan 8 !! 2 pembukaan lagi, dan lahirlah anak saya. Untung staf RS segera membawa saya ke ruang operasi (mau operasi Caesar kok masih ngerasain sakit bersalin juga ….)

Sampai di ruang operasi, saya dibius melalui tulang belakang. Sakitnya ngga ketulungan !!!! dan yang kerasa nyeri itu malah lutut saya. Sampai rasanya pengen saya lepas itu lutut, supaya ga kerasa sakit lagi L

Saat operasi, saya masih sadar. Sampai our baby dikeluarkan dari perut dan ditunjukkan pada saya. Sayangnya tidak ada dokumentasi sama sekali saat our baby baru keluar dari rahim saya. Our baby juga sempat ditunjukkan pada Papa (dan Mama, yang akhirnya datang bersama seorang sepupu, Yasmine) yang menunggu di luar ruangan. Yasmine sempat mengambil gambar our baby dengan HPnya. Tapi karena HP jadul, jadi gambarnya blur. Sayang banget … L

Setelah melihat our baby, baru saya tertidur. Efek obat bius. Hari itu hari Senin, 5 Juni 2006. Saat seharusnya saya berada di salon, merapikan potongan rambut sebelum jadwal operasi.

Besoknya, tanggal 6 Juni baru saya bisa bertemu langsung dan menggendong our baby. Saya sempat grogi waktu disuruh menggendong our baby. Seumur hidup baru sekali ini saya menggendong newborn baby!. Tapi karena saya dan hubby bertekad untuk breastfeeding, jadi saya beranikan diri untuk menggendongnya.

Eh, ternyata our baby langsung nempel ke puting susu saya. Padahal dia lagi dipakein selang di hidung, dengan alasan paru2nya kurang bersih karena sempat menyedot cairan mekonium (kotoran bayi itu sendiri) waktu air ketuban pecah. Tapi saya melihat our baby begitu sehat, putih bersih, dan imut banget !! (padahal berat lahirnya 3,7 kg !) Berjuta rasanya deh.

Oya, saya sempat down (sebentaaar aja) waktu melihat ibu2 lain sudah mengenakan breastpad, sedangkan saya …. Basah aja ngga ! Tapi saya berusaha PD, minta sama Tuhan supaya ASInya keluar, dan tetap menyusui our baby. Padahal ga tau juga, ASInya keluar apa ga … Pokok ngeliat our baby tenang2 aja nempel ke puting.

Di hari ke3, bra saya masih juga belum basah kuyup (seperti kata orang2). Tapi saya sempat memompa payudara saya dengan electric breastpump milik rumah sakit. Keluarnya lumayan lo … 60ml dari 1 sisi. Jadi 2 sisi dapat 120ml. Asyiiikkk….. Tuhan baik deh ! Padahal selama 5 hari di RS, saya hanya sempat 5 kali menyusui langsung dan 1 kali pompa (hari Kamis malam).

O ya, seharusnya nama our baby tuh Jehoshaphat Billy. Jehoshaphat itu nama aslinya Raja Yosafat. Arti bahasa Ibraninya adalah “God is my Judge”. Sedangkan Billy diambil dari nama Billy Graham, penginjil dunia asal USA. Tapi karena lupa tulisannya, akhirnya jadi Joshaphat Billy. Panggilannya Jojo.

Waktu pulang ke rumah, saya sempat berencana memberi 1 – 2 botol sufor di samping ASI. Karena waktu di RS kan our baby juga diberi sufor (grrr). Takutnya kalo sufor dihentikan, our baby malah mencret, dll.

Untungnya hal itu ga terjadi. Begitu sampe di rumah – di antara capek habis melahirkan, ditambah menghadapi bayi baru, dan tamu2 yang datang menjenguk – sudah ga ada tenaga lagi untuk menyiapkan su-for.

Dan our baby menyusu dengan lahapnya. Dan dengan gampangnya. Begitu our baby udah kenyang, dia langsung tidur aja tuh. Sempat sih nangis2 rewel, tapi waktu dipasangin lagu2 Hillsongs Church (lagu wajib waktu hamil !), langsung our baby jadi tenang sambil lihat2 kanan-kiri J

Besoknya saya dan hubby membawa our baby ke dokter, untuk vaksin. Pulangnya masih sempat mampir di baby shop, beli2 keperluan yang belum sempat dibeli. Hari Minggunya kami ikut kebaktian ke 2 di Graha Bethany Nginden. Di kebaktian, our baby tenang banget. Hanya sekali dia minta ASI. Setelahnya langsung tidur lagi J

Nah, sebelum khotbah disampaikan (waktu itu yang khotbah Pdt. KAM Jusuf Roni), worship leader (teman kami, Mira) memimpin jemaat menyanyikan lagu “Mujizat itu Nyata”. Dan saya langsung menangis. Bahkan sampai saat khotbah disampaikan sampai selesai, saya masih menangis juga. Dalam hati saya sempat berpikir, ‘malu ah dilihatin tante2 di sebelah saya. Dipikir stress kali saya ini’. Sempat mikir juga ‘apanya yang ditangisi? Our baby kan udah lahir selamat dan sehat kok. Maunya ASI lagi’. Tapi tetap aja saya ngga bisa berhenti menangis (our baby lagi digendong papanya jalan2 di bagian belakang ruang kebaktian).

Lanjutannya di post besok ya …..🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: