campdavidhome

All about our effort to build our own home

Let There be Light

Dalam membangun rumah, yang lebih penting adalah jalur listrik (paling BT kalo harus berebut stop kontak) [dan jalur air (tengah2 mandi, air mati! ), tapi sebaiknya air ada di post berikutnya, karena pembahasannya pasti bakal panjang dan lebar seperti ini]. Kemudian juga pencahayaan, dari sinar matahari (jendela sebanyak dan sebesar mungkin) dan lampu.

courtesy of I-forget-where-was-it-come-from

Bayangkan saja : rumah udah bagus, lampunya ga bisa dinyalain. atau listriknya cenderung naik-turun karena salah pake kabel. atau daya PLN yang dimiliki ga bisa terpakai maksimal. Seperti di rumah yang sekarang kami tinggali ini. Daya PLN seharusnya bisa menyalakan 2 AC, 1 komputer, 1 pompa air, dan lampu2 + rice cooker & lemari es. Tapi nyatanya ….. begitu 1 AC dan 1 pompa air menyala, komputer dan AC lainnya sudah tidak bisa digunakan lagi, karena pasti ‘njeglek’ (dayanya ‘dianggap’ ga mencukupi)

Tapi kalo pake lighting plan yang benar2 pro, seperti restoran Pizza Hut aja butuh lebih dari 100 titik lampu. Padahal ruangannya paling juga cuma 300m2-an. La kalo rumah tinggal masa mau sebanyak itu ya??? Kecuali udah pake solar panel, jadi ga bayar PLN.

Sedangkan solar panel saja, hitungannya per panel sekitar 5 jutaan hanya untuk 100 Watt listrik, belum peralatan lainnya (http://tokoone.com/panel-solar/). Untuk mencapai 2000 Watt kayak di rumah sekarang butuh 10 panel. Kalau 1 panel 5 juta x 10 panel = 50 juta sendiri !!! oemji deh ….. Padahal dari sinar matahari, belum bisa langsung dijadikan aliran listrik. Sinar itu kudu dirubah dari DC ke AC. Trus harus ada batere, untuk menyimpan hasil sinar yang masuk. Kalo ga …. bisa2 waktu lagi mendung pekat, ga ada aliran listrik masuk, alias black-out. Balik lagi deh ke PLN.

Jadi sampai sekarang, belum bisa dipastikan, bagaimana mengatur listrik yang benar. Yang baru bisa direncanakan adalah pemakaian lampu LED dan lampu hemat energi sebanyak mungkin. Selain itu kami juga sudah menetapkan bahwa dalam satu ruangan harus ada paling sedikit 4 colokan listrik dan 2 colokan telepon. Ini sih dari pengalaman berebut colokan untuk charge gadget masing2 :) untungnya suami selalu membawa kemana-mana kabel extension dengan minimum 4 colokan di dalamnya.

Tambahan lainnya sih saklar hotel (mematikan/menyalakan lampu dari 2 titik berbeda), card key seperti di hotel (just dreaming, not yet reality), skema listrik yang jelas supaya kalo ada apa2 tidak bongkar2 dinding (yang rencananya di cor pake ready mix, dan yang ‘katanya’ kerasnya ga ketulungan) atau dinding dobel (dinding batako/cor di bagian luar, partisi/gypsum di bagian dalam).

Oya, dulu sih kami berdua sempat saling ngotot, memutuskan apakah lampu warna kuning lebih keren daripada lampu warna putih. Menurut pengamatan saya, lampu warna kuning temaram membuat ruangan jadi terlihat lebih cozy dan elegan. Sementara menurut suami, lampu putih membuat kebutuhan lampu tiap ruangan lebih sedikit. Tapi setelah banyak mengunjungi tempat2 publik yang menggunakan lampu putih dan lampu kuning, kami jadi semakin yakin bahwa memang lampu kuning jauh lebih berperan dalam menentukan atmosfer ruangan, dibanding lampu putih, yang malah lebih menunjukkan kotor tidaknya suatu ruangan. ha !

Tinggalkan komentar »

the Ex-Terior

Kenapa dinamakan exterior ya? setahu saya ‘ex-’ artinya mantan/bekas.

Anyway …..

Pengennya sih ngebuat moodboard yang rada2 pro gitu. Tapi ternyata susah juga kalo cuma pake Words atau Paint. Mungkin harus pakai Photoshop dulu deh.

Tapi lebih baik ada gambarnya, daripada hanya sekedar kata-kata yang susah dicerna, karena kepanjangan penjelasan. Ya ga ?

Ini yang kami berdua setujui untuk bagian luar rumah

courtesy of the homeowner at Galaxy Bumi Permai 1, Surabaya

Syarat-syaratnya adalah :

- harus tanpa atap genteng ( supaya tidak susah ganti genteng bocor, dan atapnya bisa dijadikan taman),

- bentuk bangunannya persegi 4, yang katanya paling tahan gempa. Harus diingat, karena kami tinggal di kaki Gunung Semeru – gunung terbesar di Pulau Jawa, dan gunung berapi terbesar kedua setelah Gunung Anak Krakatau (Puncak Jayawijaya di Papua bukan gunung berapi)

- low maintenance (tidak harus di-cat ulang setiap tahun)

- lebih mementingkan keamanan dan fungsinya, baru setelah itu estetika (percuma rumahnya bagus kalau saluran airnya mampet, pencuri mudah masuk rumah, kompor meledak karena salah penempatan, dll)

- sirkulasi udara lancar, sehingga tidak terlalu butuh AC

 

Untungnya rumah kami tidak akan berbentuk seperti ini

from google pictures search

jadi seperti rumah mainan. Walaupun sebagian besar ahli gempa menyatakan bahwa ini adalah bentuk rumah paling tahan gempa. Ngga segitunya lageee……

Untuk jendela dan pintu, kami memilih model begini

courtesy of houzz

courtesy of Losari Resort, Magelang

bedanya, kami ingin jendela dan pintu bagian dalam menggunakan kasa nyamuk, sedangkan bagian luar menggunakan kusen dan daun baja.

 

untuk menghindari terik matahari yang berlebihan, kami berencana menggunakan overhang seperti ini

courtesy of google pictures search

Selain menjauhkan terik matahari supaya tidak masuk ke dalam rumah (tanpa menghalangi masuknya sinar matahari), overhang juga berfungsi untuk melindungi rumah dari derasnya hujan. Asal penempatannya di bagian utara, selatan dan timur rumah. Sedangkan bagian barat sebaiknya sih ditutup saja, dengan menyisakan jendela2 kecil untuk pencahayaan.

Cara kerjanya kira-kira seperti ini

courtesy of google pictures search

 

Untuk teras, mungkin seperti ini

courtesy of Houzz

dan saya pengen banget punya swing seat atau hammock. kalo di teras depan mungkin cocoknya pakai swing seat kali. kalo hammock biar di teras belakang, supaya kalo ketiduran ga diliatin tamu :D

courtesy of gardentones.com

from simplenest.net

Garasinya model carport

courtesy of somewhere on the net

bagian samping dipake untuk storage atau lemari built-in di sepanjang dinding. Ga perlu pintu. Toh sudah ada pintu gerbang

Tinggalkan komentar »

The Miracle (part 2)

Hari Senin, 12 Juni 2006, kami bertiga (ga bisa lepas dari our baby deh. Alasannya, ‘ nanti kalo nangis minta ASI gimana?’ J) ke dokter kandungan untuk check-up. Sampai di ruang praktek, saya nanya, ‘dok, kok sakit ya putingnya digigitin our baby?’. Eh si dokter enteng aja menjawab, ‘berhentikan dulu ASInya, trus putingnya dikasi salep. Setelah sembuh baru ASI lagi’. Hhhhh….kok gitu sih jawabannya. Bukannya mendukung ASI malah menjauhkan baby dari ASI !!!!

Setelah itu si dokter menjatuhkan BOM di depan kami : kista saya sudah masuk stadium 2 kanker indung telur dan saya harus menjalani kemoterapi !!!!

Menurut si dokter, kami harus menyiapkan biaya sekitar 70 juta untuk sekali kemoterapi. Dan saya butuh paling sedikit 4 kali kemoterapi, dengan jarak 2 minggu sekali. Yang lebih menyedihkan lagi, saya tidak boleh menyusui our baby 2 hari sebelum dan 1 minggu setelah kemoterapi. Karena kuatir our baby ikut terkena dampak negative kemoterapi.

Mendengar itu, kami langsung diam seribu bahasa. Sementara si dokter menuliskan surat pengantar untuk kemoterapi pertama saya 2 minggu lagi.

Keluar dari ruang praktek, saya dan our baby langsung masuk mobil, sementara hubby menebus resep vitamin. Di mobil saya seperti orang linglung … hanya diam, dan tidak berani menyentuh our baby. Dan saya mulai menangis ….. Saya bahkan tidak ingat kejadian kemarin di gereja….

Waktu hubby masuk mobil, dia ikut shock melihat saya yang sedang menangis (dia berpikir saya menangis karena divonis kanker, padahal saya menangis karena tidak bisa memberi ASI buat our baby). Sepanjang perjalanan kembali ke rumah, hubby berusaha menenangkan saya dan mengingatkan saya bahwa TUHAN itu BAIK !

Sampai di rumah, orangtua saya ikut kaget melihat saya datang berurai airmata. Mereka pun mengajak kami berdoa. Dan menyarankan kami untuk berangkat ke Singapura. Cari pendapat dokter lain.

Malamnya, sebelum tidur, saya sempat bilang bahwa saya tidak mau berangkat ke Singapura tanpa hubby. Saat itu rasanya saya lebih rela meninggalkan our baby bersama Papa & Mama, daripada berangkat ke Singapura tanpa hubby.

Besoknya saya langsung pulih dari shock (!) Entah kenapa, sepertinya beban berat yang ditimpakan dokter kemarin itu terangkat habis. Tanpa ada sisanya. Selain 2 mata saya yang bengkak karena kebanyakan menangis dan harus bangun setiap 2 jam untuk menyusui.

Pagi-pagi sekali di hari Selasa, 13 Juni 2006, hubby pulang ke kota kami untuk mengambil paspor, supaya kami bisa berangkat ke Singapura secepatnya. Orangtua saya ternyata sudah mengabari sanak saudara bahwa saya divonis kanker. Dan berbagai persiapan sudah dijalankan untuk memberangkatkan saya dan hubby (hore !) ke Singapura.

Puji Tuhan, kebetulan seorang sepupu saya punya langganan dokter ob-gyn Singapura yang dikenal ahli dalam hal kanker kandungan dan sebangsanya. Dokter ini termasuk salah satu dokter terbaik Singapura dalam hal kanker. Bahkan spesialisasinya juga kanker kandungan. Dan menurut sepupu, Maureen, dokter ini baiiiiikkkk banget. Pokoknya asyik deh orangnya :) Bahkan Maureen rela meninggalkan suami dan 3 anaknya (mereka tinggal di Jakarta) untuk mengantar saya dan hubby ke Singapura.

Sementara itu, beberapa saudara di Surabaya masih ngotot minta kejelasan hasil patologi kista saya. Dan tidak berhasil! sepertinya karena si patolog berpikir kami tidak mempercayai hasil penelitiannya. Padahal saudara2 saya itu cuma mau minta kista saya supaya bisa dibawa ke Singapura dan ditunjukkan pada dokter ob-gyn yang akan saya datangi.

Jadi hari Rabu, 14 Juni 2006, dengan saaangat berat hati, saya dan hubby meninggalkan our baby untuk berangkat ke Singapura via Jakarta (janji ketemu Maureen di pesawat SQ). Begitu sampai di Singapura, kami drop koper di apartment milik tante (adiknya mama, dan juga mertuanya Maureen), dan langsung berangkat ke Gleneagles Hospital.

Di rumah sakit itu kami janji ketemu dengan Prof. Tay Soen Kuie, si dokter ob-gyn. Dokternya emang baiiiikkk banget. Apalagi waktu tahu bahwa saya baru 1 minggu melahirkan. Dan waktu Prof Tay ini ngeliat kista saya (sempat ditanyain sama custom Changi !), dia langsung bilang, ‘ah, kayaknya ngga ganas kok’. Dengar itu, kami bertiga langsung legaaaaa……

Prof Tay memutuskan akan mengirim kista itu ke rekan patologi di RS bersalin Singapura (KK women’s & children’s Hospital) untuk memastikan kondisinya. Selain itu saya juga disuruh CT Scan untuk melihat keadaan kandungan saya supaya diagnosisnya lebih pasti. Sayangnya karena hari sudah sore (jam 5 waktu S’pore), CT Scan baru bisa besok pagi. dan baru Jumat siang saya baru bisa ketemu lagi dengan Prof Tay (setelah USG lagi) di Singapore General Hospital. Padahal rencana kami hanya 3 hari di S’pore. Udah kangen our baby nih !!!!

Para suster yang menjadi asisten Prof Tay juga baiiiiikkkk banget. Yang saya ingat sih Alice, June dan Poonam (kepala suster, orang India). Mereka yang menyarankan saya untuk sebisa mungkin berobat ke SGH daripada ke Gleneagles, karena biayanya jauh lebih murah (SGH punya government, Gleneagles punya private). Trus mereka juga yang membuatkan jadwal supaya saya bisa secepatnya kembali ke Indo (oh, how we miss our baby so much :( )

Hari Kamis pagi, saya menjalani CT Scan di Gleneagles. Pertimbangan jarak Gleneagles ke apartment yang hanya 2 bus stops membuat SGH jadi tersisih. Apalagi jadwal CT Scan saya jam 8.30 (jam 7.30 waktu Surabaya tuh !). Toh nanti siang kami tetap harus ke SGH. Saya yang sudah pernah ke S’pore saja ga tau dimana SGH. Apalagi hubby, yang baru pertama kali ini ke S’pore. Untung ada Maureen (you’re just great !)

Jumat siangnya kami berangkat bertiga naik taxi ke SGH, di Chinatown, setelah mengambil hasil CT Scan di Gleneagles. Ya ampun …. besar banget rumah sakitnya. Kalau ga tau gedung apa yang mau didatangi, pasti get lost deh di sana. Jadi harus tau pasti, tujuan kita ke gedung apa, atau mau ke bagian apa. Karena tiap gedung punya bagian sendiri2.

Di sana kami langsung mengambil antrian untuk USG dan untuk ketemu Prof Tay sekaligus. Jamnya sudah diatur supaya ketemu Prof Tay setelah USG.

Waktu di USG, saya sempat ngobrol dengan petugas USGnya. Perempuan, masih muda. Ternyata dia butuh gelar khusus (D-3) + status dokter muda untuk boleh melakukan USG di SGH. Padahal kalo di Indo kayaknya ga perlu segitunya deh.

Sambil menunggu waktu ketemu dengan Prof Tay kita sempat makan di kantin RS. Wow, kantinnya udah kayak pujasera di mall Indo aja deh. Makanannya macam2. Dari Es Singapura, rujak, sampe Spaghetti ada semua. Dan lucunya banyak pasien yang juga makan di situ, dengan IV bergelantungan di atas kepala, bahkan pake wheelchair. Bosan kali ya, mereka tiduran terus di kamar.

Waktu masuk ke klinik Prof Tay, ternyata hasilnya oke banget. Kistanya baru stadium 0. Dan kalo stadium 0 ga perlu pake kemoterapi, percuma !. Jadi tindakannya ya diangkat aja. Sayangnya ….. dokter Surabaya meninggalkan sedikit jaringan kista di saluran indung telur saya (oya, kistanya ada di indung telur sebelah kiri). Jadi saya harus menjalani laparaskopi untuk membersihkan jaringan ini, sekaligus membersihkan rongga perut dari kemungkinan menyebarnya sel2 kanker penyebab kista.

Yaaa…. ga boleh pulang deh.

Karena saya harus puasa 12 jam sebelum operasi, ditambah antre ruang operasi, brarti saya baru bisa di-laparaskopi hari Minggu. Padahal seharusnya sore ini kami bertiga kembali ke Jakarta dan Surabaya. Jadi hanya Maureen yang kembali ke Jakarta, sementara saya dan hubby tetap stay di S’pore.

Sebelum Maureen pulang, dia sempat membantu saya mendaftar untuk operasi. Ternyata ga bisa operasi di SGH, karena setiap hari Minggu ruang operasi tutup (hanya dibuka untuk emergency atau melahirkan normal). Jadi terpaksa laparaskopi di Gleneagles. Dan biayanya …… lebih dari 50 juta rupiah. Padahal kami hanya membawa uang 5000 SGD.

Untung ada Maureen (lagi!) yang kebetulan punya Amex Gold CC, dan saldonya cukup untuk dipake bayar DP RS. Mahal !!!!! karena hari Minggu, seharusnya tidak ada operasi, jadi kena biaya lembur para dokter dan suster yang membantu laparaskopi. Dan kamarnya kelas 2 juga (isi 2 orang). Maunya kami sih kelas 3/bangsal juga gapapa. Kan RSnya bersih banget. Ga kaya RS umum di Indo (malu deh)

Dan sebelum pulang, Maureen masih sempat membelikan saya Avent breast pump (yang manual, itu aja harganya 100an SGD), Pigeon breast pad, dan Medela breastmilk bag(!). Mungkin dia melihat kesusahan saya memompa ASI menggunakan breast pump merk P****N. Memang malam sebelumnya kami sempat sharing masalah ASI.

Jadi hari Sabtu kami berduaan saja di apartment. Kami masak, dan bersih2 apartment, dan nonton TV seharian. Kemarin sorenya, setelah dari SGH, kita sempat belanja bahan makanan di supermarket. Soalnya ngga tega ngeliat harga makanan yang cukup mahal untuk ukuran Indo.

Hari Minggu, sebelum ke RS, kami sempat kebaktian di Bethany S’pore di Grand Hyatt, Orchard. Dan saya menangis lagi sepanjang kebaktian. Sebagian karena cemas mikirin operasi, sebagian karena kangen sama our baby, sebagian lagi karena saya cuma bisa pasrah aja sama Tuhan. Saya dan hubby yakin bahwa Tuhan pasti memberi yang terbaik buat kami berdua (selama di S’pore kami hampir tidak berhenti memperkatakan Mazmur 91).

Jam 12 siang kami sudah sampai di Gleneagles naik bis. Jam 1 siang saya ketemu Prof Tay, sebelum dibius. Baru jam 6 sore saya sadar kembali. Dan jam 7.30 saya dibawa ke kamar biasa. Di sana saya dikasi Milo hangat, tapi cuma boleh minum seteguk setiap 15 menit. Hubby sempat menemani saya, yang masih di bawah pengaruh bius, sampai jam 10 malam. Setelah itu saya suruh dia pulang. Toh di RS ini pasien tidak boleh dijaga.

Jam 12an malam saya panggil suster, karena mau pipis. Kateter tidak dipasang karena saya di-laparaskopi, yang termasuk operasi minor di sana. Kalau operasi mayor baru pasiennya dipake-in kateter. Setelah pipis (kamar mandi ada di dalam kamar), suster bilang, ‘kalau bisa jalan sendiri ga usah panggil suster ya. Kalau mau pipis langsung aja ke kamar mandi’. Yah, pasien disuruh mandiri. Tapi saya nurut aja, karena saya bukan tipe pasien yang betah di ranjang. Malah asyik kalo boleh turun ranjang sendiri :) bisa jalan2. Sayang sudah malam.

Hampir pagi, waktu saya mencoba jalan sendiri ke kamar mandi. Ternyata yang lebih terasa malah bekas operasi Caesarnya. Dan kamar mandinya asyik, pake penghangat lantai. Padahal saya jalan tanpa sandal (sandalnya ketendang ke bawah ranjang). Kamar mandinya kecil, tapi komplit, dan bersiiiiihhhh banget. Kayak ga pernah dipake aja deh.

Pagi hari Senin, jam 6, suster masuk. Cek IV, cek perban bekas operasi, trus …. saya dikasi menu makan pagi (!). Setelahnya baru saya tau bahwa itu kebiasaan RS di S’pore, khususnya untuk kamar dengan kamar mandi di dalam. Saya udah lupa menunya apa aja, pokoknya enak2 deh. Perut langsung lapar waktu baca menunya :D

Waktu makan pagi, hubby datang. Trus ga lama kemudian Prof Tay datang, memberitahu hasil operasi dan nunjukin foto2 keadaan rongga perut saya. Tapi hasil komplitnya baru besok, hari Selasa.

Pagi itu juga ada bu Melinda dari bank S’pore datang, mengantarkan uang tunai dalam bentuk SGD, untuk biaya pengobatan saya di sana. Bu Melinda ini rekan bank dari adiknya mama, yang dimintai tolong untuk meminjamkan sejumlah uang untuk pengobatan saya selama di S’pore.

Puji Tuhan, banyak orang yang dikirim Tuhan untuk membantu kami selama di S’pore ini. Kalau dari tabungan kami sendiri, ga bakalan kami berangkat ke Spore. Tapi karena Tuhan baik, jadi saya bisa berobat di Singapore, dan yang paling penting tidak perlu dikemoterapi. Sampai saat ini.

Hari Selasa siang kami ketemu Prof Tay di Gleneagles. Menurut rencana, kami akan kembali ke Surabaya hari Rabu sore. Setelah tiket hangus di hari Jumat. Kalau sampai batal pulang hari Rabu, brarti akan ada 2 tiket hangus. Jadi sebelum brangkat ke RS, kami berdoa habis2an, minta supaya Tuhan izinkan kami pulang hari Rabu.

Waktu ketemu Prof Tay, ternyata ada masalah baru timbul. Setelah indung telur sebelah kiri dipotong habis, gantian indung telur sebelah kanan yang diperiksa dengan teliti. Dan ada bintik2 yang diduga sel2 kanker di situ.

Diagnosis ini membuat Prof Tay mengajukan pilihan untuk kami :

- indung telur kanan potong habis;

- atau pulang ke Sbaya, buat anak 1 lagi, dan balik ke Spore untuk potong

indung telur kanan

Karena menurut Prof Tay lagi, sel2 kanker sekecil itu belum bisa dideteksi keganasannya. Bisa saja seumur hidup, saya hidup bersama sel2 kanker sebesar titik di indung telur sebelah kanan. Atau dalam hitungan bulan, indung telur yang sudah tinggal satu itu berkembang menjadi kanker ganas.

Saat itu juga kami berdua mengambil keputusan : potong indung telur kanan sekarang juga !. Walaupun sempat ada keraguan dalam pikiran saya, menghadapi para ‘donatur’ yang juga keluarga saya sendiri. Takutnya mereka ga setuju, karena berarti our baby akan jadi anak tunggal. Tapi seperti kata Prof. Tay, ‘ini sangat jauh dari nyawa kamu’.

Siang itu juga kami mendaftar kembali untuk laparaskopi ke-2, di hari Kamis pagi. Karena menganggap ini hanya operasi minor, kami pun mendaftar untuk day-care. Jadi pagi harinya operasi, sore hari sudah bisa pulang. Dan hari Sabtu kami sudah bisa kembali ke Surabaya. Toh Senin kemarin keadaan saya baik2 saja.

Untuk kedua kalinya, tiket hangus. Ditambah kabar dari Surabaya yang mengatakan bahwa Mama dan kakak sulung saya terserang flu, sehingga mereka harus mengenakan masker untuk merawat our baby. Maklum, mereka sudah tidak muda lagi. Dan bayi baru lahir butuh perawatan terus-menerus. Sebelum saya berangkat ke S’pore saja, ganti popok bisa 12 kali sehari (mungkin karena minumnya ASI). Apalagi selama saya tinggal, our baby harus minum su-for, yang lebih ribet lagi persiapannya. Mana harus cuci botol, steril botol, siapin air panas, dll… God helps us, please !

Hari Kamis jam 8 pagi saya sudah masuk ruang operasi. Jam 12 siang saya diantar ke kamar day-care. Dan jam 4 sore saya sudah menunggu di wheelchair, sementara hubby menyelesaikan biaya administrasi dan minta dipanggilkan taxi.

Terus terang saja, waktu itu saya seperti tidak rela meninggalkan RS. Badan saya masih lemas dan lesu, dan kedinginan. Mungkin efek biusnya belum hilang sepenuhnya. Mungkin juga daya tahan tubuh saya yang menurun karena menjalani 3 kali operasi dalam waktu hanya 3 minggu. Dan waktu saya masuk ke taxi, luka bekas operasi terasa sekali. Apalagi kalau taxinya terguncang (waktu kembali ke S’pore 4 bulan kemudian, baru saya perhatikan bahwa tidak ada jalanan yang berlubang di kota ini. Jadi mungkin guncangan itu karena mesin taxinya sudah cukup tua untuk ukuran S’pore).

Sampai di depan gedung apartment, dan waktu saya melangkah keluar dari taxi, saya merasa ada sesuatu yang mengalir dari tubuh saya. Seperti kalau lagi menstruasi gitu. Tapi saya tidak yakin dari mana sesuatu itu keluar. Yang saya pikirkan hanyalah cepat2 masuk kamar dan berbaring di ranjang.

Di depan pintu apartment, baru saya dan hubby melihat ada rembesan darah dari luka bekas operasi yang masih tertutup perban. Kami pikir, ‘ah paling karena dipake jalan, jadi perbannya kebuka’. Jadi kami langsung masuk kamar. Dan saya berbaring di ranjang yang dialasi plastik (supaya ranjangnya ga kena noda darah). Sampai hampir malam, setiap kali saya berdiri (hanya 1 kali untuk pipis) darah itu mengalir lagi. Kami berdua kebingungan.

Di Surabaya, ada saudara yang bisa ditanyai. ada mobil yang bisa dipakai berangkat ke RS. ada banyak fasilitas untuk menangani kondisi semacam itu.

Tapi kami di S’pore. Hanya berdua. Dan tidak ada kendaraan pribadi.

Akhirnya hubby berinisiatif untuk pergi ke Guardian terdekat dan beli perban/plester untuk mencegah darah keluar. Sekalian beli makan malam.

Setelah dikasi plester, hasilnya sama saja.

Jalan terakhir : telpon Prof. Tay. Memang sebelum pulang kami diberi nomer HP Prof.Tay. Dan solusinya sederhana sekali : bekas operasi ditahan pakai pembalut, dan segera ke RS Gleneagles untuk ketemu Prof Tay langsung di Emergency Room.

Jam 10 malam kami menunggu taxi di depan gedung apartment. Begitu taxi datang, kami langsung berangkat ke RS, dan masuk pintu Emergency. Hampir saja saya dipasangi selang IV. Untung Prof Tay keburu datang. Kalau sampai dipasang IV, berarti saya harus menginap 1 malam di RS. berapa lagi biaya yang harus dikeluarkan?

Padahal ternyata darah yang keluar hanyalah darah kotor sisa operasi yang ‘sembunyi’ di balik lipatan kulit. Maklum, luka bekas operasi Caesar yang belum sembuh dilubangi lagi 2 kali untuk 2 kali laparaskopi. Jadinya kulit tidak bisa menyatu kembali secepat sebelumnya. Dan Prof Tay sendiri yang memasang perban lebih erat, supaya tidak timbul masalah lagi di kemudian hari.

Jam 12.30 kami baru kembali dari Emergency Room. 2 jam di sana harus kami bayar dengan 250 SGD. Apa jadinya kami kalau bukan Tuhan yang menyediakan donatur ?????? Praise GOD

Besok paginya, Jumat, kami terlambat 15 menit untuk ketemu Prof.Tay. Dan keputusannya : Saya bersih dari sel2 kanker !!!! Saya hanya perlu cek darah 2 kali lagi, di bulan ke 4 dan ke 12, untuk memastikan bahwa sel2 kanker sudah tidak ada lagi dalam tubuh saya. Haleluya !!!!!!!!!

Hari itu kami rayakan dengan makan2 di Takashimaya, Orchard. Di foodcourt sih.

Hari Sabtu kami pulang ke Surabaya via Jakarta. Sudah tidak sabar rasanya untuk menggendong dan menciumi our baby !! Dan memberikan ASI perah yang selama ini saya kumpulkan di S’pore.

Sempat cemas juga, ‘mau ga ya our baby menyusu langsung dari saya?’

Ternyata begitu waktunya menyusui, our baby malah ga mau lepas dari puting !. Jadi semalaman kami bertiga ga tidur. Gimana mau tidur? our baby hanya mau tidur sambil ngempeng. begitu dilepas dari puting, dia langsung nangis lagi. Kecil2 begitu sudah bisa kangen juga dia sama mommynya :) Dan baru menjelang pagi kami bertiga bisa tidur nyenyaaaakkkkkk …….

Sampai di sini kesaksian saya. Semoga kesaksian ini bisa menguatkan para pembaca yang sedang mengalami masalah yang hampir sama

Tinggalkan komentar »